Solid Gold Berjangka Semarang | Harga emas menguat, ditopang optimisme setelah AS dan Iran menandatangani kesepakatan damai sementara. Namun, ruang kenaikan masih dibatasi oleh sikap Federal Reserve yang memberi sinyal peluang kenaikan suku bunga pada akhir tahun.
Bullion diperdagangkan di dekat $4.295 per ons setelah turun 1,7% pada sesi sebelumnya. Pejabat AS dan Iran telah menandatangani kesepakatan damai secara elektronik pada Rabu malam, tetapi belum jelas apakah Selat Hormuz sudah kembali dibuka.
Kesepakatan tersebut diharapkan dapat meredakan guncangan energi global yang sebelumnya mendorong inflasi dan meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga. Meski begitu, pasar masih menunggu seberapa cepat harga energi dapat turun dan kapan lalu lintas melalui Hormuz kembali ke level sebelum perang.
The Fed mempertahankan suku bunga pada Rabu dan menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas harga. Bank sentral juga menghapus rujukan terkait penyesuaian suku bunga tambahan dari pernyataan kebijakan, membuat pasar semakin memperhitungkan peluang pengetatan kebijakan moneter pada Oktober.
Bagi emas, suku bunga yang lebih tinggi tetap menjadi hambatan karena logam ini tidak memberikan imbal hasil. Ryan Mckay dari TD Securities menilai ekspektasi kenaikan suku bunga sudah tercermin dalam harga bahkan sebelum keputusan terbaru The Fed. Namun, ia menambahkan bahwa bias pasar terhadap emas masih cenderung bearish, kecuali ada perubahan besar dalam prospek kebijakan Fed.
Pada pukul 08.13 waktu Singapura, emas spot naik 0,1% ke $4.297,83 per ons. Perak menguat 1,2% ke $68,75 setelah turun 3% pada sesi sebelumnya, sementara platinum dan palladium ikut naik.
Indeks Bloomberg Dollar Spot melemah 0,1% setelah menguat 0,7% pada sesi sebelumnya. Fokus pasar berikutnya tertuju pada pembukaan kembali Selat Hormuz, arah harga energi, serta apakah sinyal The Fed akan terus mendukung dolar dan yield AS.(mrv)*
Sumber: Newsmaker.id