Solid Gold Berjangka Semarang | Harga minyak turun tajam setelah Amerika Serikat dan Iran menyepakati perjanjian damai yang berpotensi membuka kembali Selat Hormuz. Brent turun 4,0% ke US$83,88/barel pada pukul 07.43 waktu Singapura, sementara WTI melemah 4,5% ke US$81,05/barel. Penurunan ini menunjukkan pasar mulai melepaskan premi risiko geopolitik yang selama beberapa bulan terakhir menopang harga energi.
Presiden AS Donald Trump mengatakan pembukaan Selat Hormuz akan dilakukan secara “bebas pulsa” setelah kesepakatan ditandatangani pada hari Jumat. Ia juga menyatakan blokade terhadap Iran akan berakhir. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengonfirmasi bahwa kesepakatan telah tercapai, meskipun isi teks baru akan dipublikasikan setelah seremoni penandatanganan di Swiss.
Selat Hormuz menjadi kunci karena pada kondisi normal jalur ini membawa sekitar seperlima arus minyak global. Sejak konflik pecah pada akhir Februari, gangguan pada jalur tersebut telah membatasi pengiriman minyak dan gas dari Teluk Persia, mendorong naiknya harga energi, serta memperkuat tekanan inflasi global. Oleh karena itu, prospek pembukaan Hormuz langsung menekan harga minyak.
Namun pemulihan pasokan tidak akan terjadi seketika. Masih ada beberapa kendala teknis, termasuk pembersihan ranjau, keamanan kapal, dan kejelasan mengenai sejauh mana Iran akan mengontrol lalu lintas kapal di jalur tersebut. Artinya, meskipun risiko utama mulai mereda, pasar tetap perlu melihat implementasi nyata di lapangan.
Secara fundamental, penurunan minyak dapat meredakan tekanan inflasi energi dan mengurangi dorongan bagi bank sentral untuk menaikkan suku bunga. Namun, jika pembukaan Hormuz tertunda atau kesepakatan menghadapi hambatan politik, premi risiko bisa kembali masuk ke harga. Untuk saat ini, arah minyak akan bergantung pada penandatanganan resmi, arus kapal di Hormuz, dan respons produsen Teluk terhadap normalisasi pasokan. (asd)*
Sumber: Newsmaker.id