Solid Gold Berjangka Semarang | Emas kembali melemah setelah Amerika Serikat melancarkan serangan baru terhadap Iran sebagai respons atas jatuhnya helikopter militer AS di dekat Oman. Ketegangan ini mengancam gencatan senjata yang rapuh dan memperbesar risiko konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah.
Harga emas sempat turun hingga 1,2% ke dekat US$4.200/oz, setelah pada sesi sebelumnya sudah melemah 1,6%. Pada pukul 08.15 waktu Singapura, emas spot tercatat turun 0,9% ke US$4.223,82/oz. Perak ikut melemah 0,6% ke US$64,97/oz, sementara platinum dan palladium juga bergerak turun.
Tekanan pada emas muncul karena pasar melihat konflik AS–Iran dapat memperpanjang gangguan di Selat Hormuz, jalur penting pengiriman energi global. Media Iran melaporkan sedikitnya enam ledakan di Pulau Qeshm, sementara Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan Iran tidak akan membiarkan serangan atau ancaman tanpa respons. Risiko ini membuat pasar kembali khawatir terhadap pasokan energi.
Harga minyak yang rebound pada Rabu menambah tekanan bagi emas. Jika minyak naik dan pasokan energi tetap terganggu, inflasi global bisa bertahan tinggi. Kondisi ini membuat bank sentral lebih mungkin menahan suku bunga di level tinggi atau bahkan menaikkannya. Bagi emas, skenario tersebut negatif karena emas tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi.
Dari sisi teknikal, tekanan juga semakin kuat setelah emas turun melewati moving average 200 hari, level penting yang sering dipantau investor besar. Penembusan level ini dapat memicu penjualan lanjutan. Standard Chartered menilai pergerakan emas dalam jangka pendek makin rentan jika peluang kenaikan suku bunga meningkat, dengan area support berikutnya berada di sekitar US$4.100/oz.
Meski tekanan jangka pendek masih besar, permintaan fisik tidak sepenuhnya lemah. Pasar India disebut masih lunak, tetapi China tetap menjadi titik terang dengan premium lokal yang stabil di bawah US$10/oz. Untuk saat ini, arah emas masih akan sangat dipengaruhi oleh tiga faktor utama: perkembangan konflik AS–Iran, harga minyak, dan ekspektasi suku bunga bank sentral.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id