Solid Gold Berjangka Semarang | Nilai tukar rupiah menguat ke level Rp18.000 per dolar AS pada Selasa (09/06/2026), naik 0,94% dari penutupan sebelumnya. Penguatan ini sejalan dengan kenaikan BI Rate menjadi 5,5%, yang bertujuan menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah. Pergerakan rupiah diikuti mata uang Asia lain. Won Korea menguat 0,38%, yuan China naik 0,19%, dan dolar Hong Kong meningkat 0,01%. Sementara yen Jepang melemah 0,01%, baht Thailand turun 0,12%, dan dolar Taiwan turun 0,03%, mencerminkan pergerakan regional yang bervariasi. Sentimen positif datang dari gencatan senjata sementara Iran dan Israel, yang meredakan ketegangan geopolitik. Namun, risiko tetap ada karena Teheran memperingatkan potensi serangan lanjutan jika Israel menyerang Hizbullah di Lebanon, dan Netanyahu menegaskan respons militer akan dilakukan jika terjadi agresi. Pasar global tetap mewaspadai inflasi energi tinggi yang memengaruhi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Investor memperhatikan imbal hasil obligasi AS dan rilis CPI Mei 2026, yang diperkirakan naik 4,2% YoY, sebagai indikator arah kebijakan moneter berikutnya. Meski rupiah menguat hari ini, analis memproyeksikan mata uang domestik tetap fluktuatif dan kemungkinan akan ditutup melemah di kisaran Rp18.050-Rp18.100 besok, tergantung perkembangan geopolitik, keputusan suku bunga AS, dan dinamika harga energi global. Baca artikel Newsmaker.id, “Rupiah Ditutup Menguat Seiring Kenaikan BI Rate Terbaru
Sumber: Newsmaker.id